PROSES PEMBUATAN RANUB KREASI PADA MASYARAKAT ACEH SAAT INTAT LINTO DAN TUENG DARA BAROE DI TANJONG SELAMAT, DARUSSALAM, ACEH BESAR

Rina . Muslimah

Abstract


ABSTRAK

Penelitianberjudul “proses pembuatan ranub kreasi pada masyarakat Aceh saat intat linto dan tueng dara baroe di Tanjong Selamat, Darussalam, Aceh Besar”mengangkat masalah Bagaimanaprosesdan makna bentuk ranubkreasi teungkulok teuku umar dan ranub bungong pada saatintat linto dan tueng dara baroe di Tanjong Selamat, Darussalam, Aceh Besar”. Pendekatan dengan jenispenelitian yang digunakanadalah pendekatankualitatif.Tehnikpengumpulan data yaitumelalui observasi, wawancaradandokumentasi.Data yang terkumpulselanjutnyadiolahdandianalisis secarakualitatif.Hasildaripenelitian mendeskripsikanbahwaproses pembuatan ranub kreasi Teungkulok Teuku Umar ialah menggunakan empat jenis bentuk lipatan antaranya: bentuk panjang dan meruncing segitiga (bagian depan atas teungkulok), bentuk segitiga (bagian samping Teungkulok), bentuk serong segitiga (bagian belakang Teungkulok) dan bentuk susunan yang disusun rapi yang ditusuk dengan cengkeh (bagian bawah Teungkulok) dan keempat motif tersebut kemudian dikreasikan di atas batang pisang yang sudah dibentuk seperti topi Aceh/Teungkulok yang biasanya dibawakan pada upacara intat linto. Sedangkan Proses membuat ranubkreasi bungong menggunakan tiga bentuk lipatan yaitu bentuk yang dirangkai dengan kawat bunga dan bentuk segi tiga yang kemudian dijahit dengan menggunakan benang dan jarum diatas kardus bekas yang sudah dibentuk menyerupai daun. Kedua bentuk lipatan ini sama seperti proses membuat Teungkulok, sedangkan bentuk ke tiga ialah daun sirih ditusuk rapi dengan kawat, kemudian dikreasikan di atas batang pisang yang sudah dibentuk tiga tingkatan lalu dikreasikan berbentuk bunga yang disebut ranub kreasi bungong yang biasa dibawakan pada upacara tueng dara baro.Maknaranub kreasi TeungkulokTeuku Umar ialah simbol pemimpin atau raja bermakna gagah, berani dan memiliki jiwa kepemimpinan, guna tujuan pria dalam berumah tangga yaitu mampu memimpin sebuah keluarga. Sedangkan ranub bungong ialah bunga yang bermakana anak dara atau gadis yang akan dipersuntingkan.


References


DAFTAR PUSTAKA

Arbi, C. I. E. 1989. Tata Rias Dan Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Aceh. Jakarta: Yayasan Meukuta Alam.

Bogdan dan Biklen.1992.Metode Pencarian Data Penelitian Student.

Daud, Syamsuddin. 2011. Romantika Warna-Warni Adat Perkawinan Etnis-Etnis Aceh. Lam Ara Banda Aceh: Indatu Bookstore.

ICAIOS. 2010. Adat Dalam Dinamika Politik Aceh. Cetakan I. Banda Aceh.

Ismail, Badruzzaman. 2011. Romantika Adat Perkawinan Etnis-Etnis Aceh.Lam Ara Banda Aceh: Indatu Bookstore.

Lembaga Adat Kebudayaan Aceh 1990. Pedoman Umum Adat Aceh. (Eds.1). Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

Moleong, Lexi, J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya

Setyantoro, Suryo Agung.2009.Ranubpada Masyarakat Aceh.Banda Aceh:Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional.

Soewarnoe, 1981. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan manajemen. Gunung Agung

Sugiyanto, dkk. 2004. Kesenian SMP Kelas VIII (Jilid 2). Jakarta: Erlangga.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Tim Penyusun Kamus. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta:

Balai Pustaka

Tjiptadi, Bambang.1984.Tata Bahasa Indonesia. Cetakan II. Jakarta: Yudistira.

Undang-Undang Dasar Repulik Indonesia Tahun 1945.

Yunus, Helmi Z. 2013. Manoe Pucok Majelis Adat Aceh: Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

Yusuf,Yusri. 2008. Kearifan Lokal Masyarakat Aceh. Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam: Majelis Adat Aceh (MAA)

Zoraida R, 1994. Dasar Seni Dan Disain. Banda Aceh

https://id.m.wikipedia.org/wiki/proses


Refbacks

  • There are currently no refbacks.