DISFEMISME BAHASA ACEH DALAM TUTURAN ANAK-ANAK DI GAMPONG ULEE LHAT, MONTASIK, ACEH BESAR

Khairatin Nisak, Rajab Bahry, Saifuddin Mahmud

Abstract


ABSTRAK

 

Penelitian ini berupaya mengungkapkan ragam disfemisme bahasa Aceh dalam tuturan anak-anak. Penelitian yang berjudul Disfemisme Bahasa Aceh dalam Tuturan Anak-Anak di Gampong Ulee Lhat, Montasik, Aceh Besar membahas tentang bentuk ungkapan disfemisme, konteks penggunaan disfemisme  bahasa Aceh dalam tuturan anak-anak di Gampong  Ulee Lhat, dan faktor yang melatarbelakangi penggunaan ungkapan disfemisme bahasa Aceh dalam tuturan anak-anak di Gampong Ulee Lhat, Montasik, Aceh Besar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Data penelitian ini adalahungkapan lisan berupa kalimat atau bukan kalimat yang mengandung ungkapan disfemisme, sedangkan sumber data adalah tuturan anak-anak di Gampong Ulee Lhat, Montasik, Aceh Besar. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak (pengamatan/observasi), teknik rekam/catat, dan teknik wawancara. Berdasarkan hasil analisis data, temuan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, anak-anak Gampong Ulee Lhat menggunakan ungkapan disfemisme berbentuk kata, frasa, dan klausa. Ungkapan disfemisme berbentuk kata terdiri atas, dèk, bui, jén,takat, dan klo. Ungkapan disfemisme berbentuk frasa terdiri atas, 'ok ma, dèk lumo, he pungö, pèk lumo, 'ok lumo, pencuri-pencuri lumo, he asèe, 'ok ma, he kloe, he jén, lagèe eumpeuenta'euen, he budôkkanyan, pèk ma, ureueng pungo, ureueng pungo, aneuk pèk lumo, aneuek pèk ma, pap lumo, dan dèk ma.Ungkapan disfemisme berbentuk klausa terdiri atas, kusipak, bangai lagèe bui, kuantok, beu’o lagèe bui, bansa buloe inong, bansa raya ulè, dan tungang lagèe bui. Kedua, konteks penggunaan disfemisme dalam tuturan anak-anak Gampong Ulee Lhatdisebabkan marah, menjawab panggilan, bercanda, meminta, bertanya,saat kesakitan, karena kebiasaan, merespons pertanyaan, terkejut, tidak sependapat dan bermaksud mengejek. Ketiga,faktor yang melatarbelakangi penggunaan disfemisme dalam tuturan anak-anak Gampong Ulee Lhat adalah faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat, faktor pendidikan orang tua, status sosial, jenis kelamin, dan usia.

Kata kunci: Disfemisme, bahasa Aceh, tuturan anak-anak

 

ABSTRACT

 

This research seeks to reveal the diversity of dysfemism of Aceh language in the children's speech. The study entitled Acehnese Dysfemism in Children's Speech at Gampong Ulee Lhat, Montasik, Aceh Besar discusses the forms of expression of dysphism, the context of the use of Acehnese dysfemism in the children's speech in Gampong Ulee Lhat, and the underlying factors of using the expression of the dysfemism of the Aceh language in the children's speech at Gampong Ulee Lhat, Montasik, Aceh Besar. The approach used in this research is descriptive qualitative approach. The data of this research is oral expression in the form of sentence or not sentence containing expression of dysfemism, while data source is speech of children in Gampong Ulee Lhat, Montasik, Aceh besar. The data were collected by observation technique, recording technique, and interview technique. Based on the results of data analysis, the findings of this study can be put forward as follows. First, the children of Gampong Ulee Lhat use the expression of dysphism in the form of words, phrases, and clauses. The expression of word-like dysfism consists of, dèk, buijén,takat, and klo. Phrases of disfeminism are phrases, 'ok ma, dèk lumo, he pungö, pèk lumo, 'ok lumo, pencuri-pencuri lumo, he asèe, 'ok ma, he kloe, he jén, lagèe eumpeuenta'euen, he budôkkanyan, pèk ma, ureueng pungo, ureueng pungo, aneuk pèk lumo, aneuek pèk ma, pap lumo, and dèk ma. The clauses of disfeminism are clauses, kusipak, bangai lagèe bui, kuantok, beu’o lagèe bui, bansa buloe inong, bansa raya ulè, and tungang lagèe bui. Secondly, the context of the use of dysphism in the speech of the children of Gampong Ulee Lhat is angry, answering a call, joking, asking, asking, in pain, out of habit, responding to questions, shocking, disagreeing and intending to mock.Third, the factors behind the use of dysphism in the children's speech Gampong Ulee Lhat is environmental factors, both family environment, school and community environment, parents education factors, social status, gender, and age.

Keywords: Dysphemism, Acehnese language, children's speech

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.