ANTI-CORRUPTION IDEOLOGY IN HIGHER EDUCATION IN INDONESIA

Sulaiman Sulaiman

Abstract


Anti-corruption ideology will get through deeply into the system of beliefs. Individuals with anti-corruption ideals are strengthened with their values, ideas, and norms, saying that corruption is atrocious. One of the potential opportunities for instilling the beliefs system is in higher education, where the education and teaching process and its recycling are taking place. The educational process at a higher education level is considered more established in understanding various levels of sciences and knowledge. Therefore, higher education has the greatest potency to ingrain anti-corruption ideals and encourage resistance against corrupt behavior. However, the potential is still debatable because educated persons conduct corruption, as it has been categorized as white-collar crime. Figures displayed by corruption statistics are outrageous. First, the rate of corruption targeted for investigation, being investigated, and punished is growing. Second, there is a tendency that the more a person developed, becomes more respected and educated, the more chances for the person to have a corrupted mindset. Hence, it can be concluded that education does not cause neglectfulness and powerlessness of someone to avoid corruption, but their intellectuality determines it.

 

Keywords: Ideology; Epistemology; Anti-corruption; Higher education.


Keywords


Ideology; Epistemology; Anti-corruption; Higher education.

Full Text:

PDF

References


A. BOOKS

Arianto, S. and Triyanti, N. (2012). Memahami Hukum, dari Konstruksi sampai Implementasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Firmansyah. (2011). Mengelola Partai Politik, Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hartono, S. (2008). Membangun Budaya Hukum Pancasila Sebagai Bagian Dari Sistem Hukum Nasional Indonesia Di Abad Ke 21. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan.

Khudzaifah Dimyati, 2005, Teorisasi Hukum, Studi tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990, Muhammadiyah University Press, Surakarta.

Lopa, B. (1997). Masalah Korupsi dan Pemecahannya. Jakarta: Kipas Putih Aksara.

Marwan, A. (2010). Teori Hukum Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Rangkang.

Mahfud, M. D. (2013). Dekonstruksi dan Gerakan Pemikiran Hukum Progresif. Yogyakarta: Thafa Media.

Muladi. (2010). Pertanggungjawaban Pidana Korporasi. Jakarta: FI. Mandiri.

Poespowardojo, S. (1993) Pancasila sebagai Ideologi Ditinjau dari Segi Pandangan Hidup Bersama. Jakarta: BP-7.

Rahardjo, S. (1998). Paradigma Ilmu Hukum Indonesia. Semarang: Universitas Diponegoro.

Rahardjo, S. (2007). Tinjauan Hukum Progresif terhadap Pengadilan yang Korup. Semarang: LBH

Rahardjo, S. (2006). Ilmu Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Rahardjo, S. (2006). Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Indonesian. Jakarta: Kompas.

Rahardjo, S. (2009). Hukum Progresif, Sebuah Sintesa Hukum Indonesia. Yogyakarta: Genta Publishing.

Robert, E. C. (1991). Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Pancasila. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

Rousseau, J. R. (1989). Perihal Kontrak Sosial atau Prinsip-prinsip Hukum Politik. Jakarta: Dian Rakyat.

Sulaiman. (2015). Pengembanan Hukum Teoritis dalam Pembangunan Hukum di Indonesia. Kanun: Jurnal Ilmu Hukum 17(2), 585-601.

Sulaiman. (2017). Building an Anticorruption Morality among Caretaker of the Oretical Law in Indonesia. Tadulako Law Review. 2(1), 43-57.

Sulaiman. (2018). Paradigma dalam Penelitian Hukum, Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 20(2), 255-272.

Tripa, S. (2019). Diskursus Metode dalam Penelitian Hukum. Banda Aceh: Bandar Publishing.

Tripa, S. (2019). Rekonseptualisasi Hukum Indonesia. Banda Aceh: Bandar Publishing

Warassih, E. (2014). Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis. Semarang: Pustaka Magister..

B. NEWSPAPER

Kompas, “Jajak Pendapat Kompas: Belenggu Hukum dalam Ruang Gelap Politik”, Kompas, 2 November 2009.

Kompas, “Jajak Pendapat Kompas: Saatnya Reformasi Penegak Hukum”, Kompas, 16 November 2009.

Kompas, “Jajak Pendapat Kompas: Timbangan Hukum yang Timpang”, Kompas, 15 Februari 2010.

Kompas, “Jajak Pendapat Kompas: Robohnya Kepercayaan Publik”, Kompas, 12 April 2010.

Kompas, “Menristek Dikti Akan Atasi Rasio Jumlah Dosen dengan Mahasiswa”, Kompas, 5 Oktober 2015.

Kompas, “Survei CSIS: Publik Nilai Kepolisian Rentan Praktik Korupsi”, Kompas, 27 Juli 2016.

Kompas, “Dibandingkan Parpol, Tingkat Kepercayaan Publik Kepada KPK Sangat Tinggi”, Kompas, 27 Juli 2016.

Kompas, “Penanganan Tersangka Korupsi”, Kompas, 29 Agustus 2016.

Kompas, “Tren Modus Korupsi 2017 Versi ICW”, Kompas, 20 Februari 2018.

Media Indonesia, “Laode: Pelaku Korupsi Didominasi Orang Berpendidikan Tinggi,” Media Indonesia, 10 November 2016.

Pikiran Rakyat, “Dengan NIDK, Menambah 40 Persen Dosen”, Pikiran Rakyat, 12 Januari 2016.

Republika, “Ini Alasan BPK Mengapa Orang Lakukan Korupsi”, Republika, 22 November 2011.

Republika, “KPK: 82 Persen Koruptor Berpendidikan Tinggi”, Republika, 9 September 2015.

Republika, “104 Kasus Korupsi Kepala Daerah Sudah Diproses KPK”, Republika, 26 April 2018.

Salahuddin Wahid, “Agama dan Korupsi”, Kompas, 20 Juni 2016.

Serambi, “Korupsi Kian Mencengangkan”, Harian Serambi Indonesia, Rabu, 16 Desember 2015.

Suara Merdeka, “Petinggi juga Korupsi”, Harian Suara Merdeka, Rabu, 11 Maret 2015.

Tempo, “Kasus korupsi Tahun 2017, ICW: Kerugian Negara Rp. 6,5 Triliun”, Tempo, 20 Februari 2018.

C. ONLINE SOURCES

Beritasatu, “Kepala Daerah Tersandung Korupsi Disebabkan Banyak Faktor”, m.beritasatu.com/nasional/360827-kepala-daerah-tersandung-korupsi-disebabkan-banyak-faktor.html.

CNN, “KPK: Koruptor Paling Banyak Lulusan S2”, dalam https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170816205414-12-235290/kpk-koruptor-paling-banyak-lulusan-s2.

Detiknews, “KPK: Koruptor Mayoritas Berpendidikan Tinggi, 32 Persennya Kader Parpol” https://news.detik.com/berita/d-3353677/kpk-koruptor-mayoritas-berpendidikan-tinggi-32-persennya-kader-parpol.

Harian Terbit, “KPK: 361 Kepala Daerah Terlibat Korupsi”, harianterbit.com/m/nasional/read/2016/08/11/67140/44/25/KPK-361-Kepala-Daerah-Terlibat-Korupsi.

Hukumonline, “ICW: Jumlah Tersangka Kasus Korupsi Ribuan di Periode 2014”, m.hukumonline.com/berita/baca/lt54288e/icw-jumlah-tersangka-kasus-korupsi-ribuan-di-periode-2014.

ICW, “Rapor Merah, Sepuluh Tahun Korupsi Pendidikan, “ www.antikorupsi.org/id/content/rapor-merah-sepuluh-tahun-korupsi-pendidikan.

Kemendagri, “Jumlah Provinsi, Kabupaten dan Kota”, otda.kemendagri.go.id/index.php/2014-10-27-09-15-39.

KPK, “TPK Berdasarkan Jenis Perkara”, per 31 Desember 2017, dalam https://acch.kpk.go.id/id/statistik/tindak-pidana-korupsi/tpk-berdasarkan-jenis-perkara.

KPK, “Rekapitulasi Tindak Pidana Korupsi” per 31 Desember 2017, dalam https://acch.kpk.go.id/id/statistik/tindak-pidana-korupsi.




DOI: https://doi.org/10.24815/sjil.v1i1.18080

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Student Journal of International Law
Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala  
Jalan Putroe Phang No.1. Darussalam, Provinsi Aceh, 23111 
Telp: (0651) 7410147, 7551781. Fax: 7551781  
 
e-mail: sjil@unsyiah.ac.id

ISSN : 2807-8497 (ONLINE)