Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Ulat Hongkong (Tenebrio molitor) (Studi Kasus Usaha Budidaya Ulat Hongkong di Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar)

Rudi Lazuardi, Akhmad Baihaqi, Teuku Fauzi

Abstract


Ulat hongkong memiliki manfaat sebagai suplemen untuk pakan hewan peliharaan. Bapak DN merupakan pencetus pertama usaha budidaya ulat hongkong di Desa Lampupok Indrapuri, Aceh Besar. Harga jual ulat hongkong Bapak DN kepada penjual pakan ternak seharga Rp 100.000/Kg dan dijual kembali seharga Rp 140.000/kg serta mampu mencapai Rp 170.000/Kg bila tiba musim sayembara burung kicau. Harga jual ulat yang tinggi serta umur usaha yang masih baru membuat peneliti tertarik untuk menganalisis kelayakan usaha ini. Tujuan penelitian ini untuk melihat kelayakan usaha budidaya ulat hongkong berdasarkan aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis, serta aspek finansial. Metode yang digunakan aspek pasar pemasaran yaitu analisis least square, aspek teknis dengan analisis deskriptif dan aspek finansial dengan melibatkan analisis tanpa diskonto dan berdiskonto berupa kriteria investasi yaitu NPV, Net B/C, IRR, BEP dan analisis sensitifitas. Hasil penelitian dari aspek pasar dan pemasaran, permintaan ulat hongkong terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada aspek teknis lokasi usaha, strategi operasional, rencana kapasitas usaha serta penetapan lokasi menunjukkan usaha ini layak diusahakan. Pada aspek finansial yang melibatkan analisis kelayakan tanpa diskonto didapatkan BEP waktu 6 tahun 9 bulan, BEP produksi didapatkan sebesar 3.415 Kg dan BEP harga didapatkan sebesar Rp 60.630. Sedangkan kriteria analisis kelayakan berdiskonto didapatkan NPV sebesar Rp 113.699.859, Net B/C sebesar 4,46, dan IRR sebesar 49%. Pada analisis sensitivitas asumsi I, didapatkan nilai NPV sebesar Rp 89.735.541, Net B/C sebesar 3,73, IRR sebesar 40%, BEP waktu 7 tahun 5 bulan, BEP produksi didapatkan sebesar 3.757 Kg dan BEP harga didapatkan sebesar Rp 66.693, maka usaha budidaya ulat hongkong pada asumsi I layak diusahakan. Pada asumsi II, didapatkan bahwa nilai NPV sebesar Rp 75.087.555, Net B/C sebesar 3,29, IRR sebesar 35%, BEP waktu 7 tahun 7 bulan, BEP produksi didapatkan sebesar 3.415 Kg dan BEP harga didapatkan sebesar Rp 60.630. Maka usaha ulat hongkong pada asumsi II layak diusahakan.


Keywords


Kelayakan; Aspek Pasar dan Pemasaran; Aspek Teknis; Ulat Hongkong; Feasible; Market and Marketing Aspect; Technical Aspect; Financial Aspect; Mealworm

Full Text:

PDF

References


Anderson SO, Rafn K, Reopstroff P. (1997). Sequence studies of protein from larval and pupal cuticle of the yellow meal worm, Tenebrio molitor, Insect Biochem. 27 (2), 121-131.

Apriani, R. (2006). Performa Ulat Tepung (Tenebrio molitor) pada ketebalan media dan kepadatan yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Arikunto. S. (2006). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta, Jakarta.

Astanu, D.A., R.H. Ismono dan N. Rosanti. (2013). Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Intensif Tanaman Pala di Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus. Jurnal Ilmu – Ilmu Agribisnis 1 (3), 220

Borror, D. J., C. A. Triplehorn dan N. F. Johnson. (1996). Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi Ke-6. Terjemahan: Partosoedjono, S. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Emzir. (2009). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kuantitatif dan kualitatif. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Frensidy, B. (2013). Matematika Keuangan. Edisi ketiga. Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Frost, W.S. (1959). Insect Life and Insect Natural History. Dover Publications, Inc.

Guna, W, A. (2015). Evaluasi Usaha Peternakan Ulat Tepung (Tenebrio molitor) Di Desa Cisalada Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Hamali, A. (2016). Pemahaman Strategi Bisnis dan Kewirausahaan. Kencana, Jakarta.

Hardiyanti, F. R. (2014). Analisis Kelayakan Usaha Tahu Bandung Kayun-Yun Desa Cihideung Ilir Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Haryanto A. (2013). Budidaya Ulat Tepung. Surabaya (ID) : Dafa Publishing.

Husaeni, E. A. dan D. Nandika. (1989). Hama Hutan di Indonesia. Life Science Inter University Center. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Husnan, S dan Suwarsono. (2000). Studi Kelayakan Proyek. UPP AMP YKPN. Yogyakarta.

Ibrahim, Y. (2003). Studi Kelayakan Bisnis. Edisi Revisi. PT. Asdi Mahasatya, Jakarta

Jayanegara, A, N. Yantina, Novandri, B, Laconi, E, B, Nahrowi and Ridla, M. (2017). Evaluation of some insect as potensial feed ingridients for ruminants : chemical composition, “in vitro” rumen fermentation and methane emission. Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture 42 (4), 247-254.

Kasmir dan Jakfar. (2003). Studi Kelayakan Bisnis. Prenada Media Group, Jakarta.

Kusuma, A, F. Iskandar, A, Fitasari, E. (2017). Peningkatan Produksi Ulat Hongkong Peternak Rakyat di Desa Patihan, Blitar melalui Teknologi Modifikasi Ruang Menggunakan Exhoust dan Termometer Digital Otomatis. Jurnal Akses Pengabdian Indonesia 1 (2), 39-48.

Makkar HPS, Tran G, Heuze V, Ankers P. (2014). State of the art on use of insect as animal feed. Animal Feed Science and Technology. 197, 1 – 33.

Nazaruddin dan E. M. Nurcahyo. (1992). Budidaya Ulat Sutera. Penebar Swadaya, Jakarta.

Ngamel, A.K. 2012. Analisis Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut dan Nilai Tambah Tepung Karaginan di Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Jurnal Sains Terapan Edisi II 2 (1), 74.

Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. (2009). Studi Kelayakan Bisnis. Bogor (ID): Departemen Agribisnis FEM IPB.

Oonincx, Dennis GAB. 2010. An exploration on greenhouse gas and ammonia production by insect species suitable for animal or human consumption. Entamophogy and environment (5), 1 – 7.

Partosoedjono, S. (1985). Mengenal Serangga. Agromedia Bogor. Bogor.

Pasaribu, A. M. (2012). Perencanaan dan Evaluasi Proyek Agribisnis. Lily Publisher, Yogyakarta.

Primyastanto, M. (2009). Buku Ajar Evaluasi Proyek Usaha edisi 2009/2010. Laboratorium Terpadu Sosial Ekonomi Perikanan. Universitas Brawijaya, Malang.

Purnamawati, Y. (2017). Kajian Konsentrat Protein Ulat Hongkong (Tenebrio molitor) Sebagai Bahan Pakan Sumber Protein Pengganti Meat Bone Meal Pada Boiler. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Septiana, A.M., dan A. Darmawan. (2015). Analisis Kelayakan Investasi Pengembangan Usaha Artomoro 2 di Mart di Gentasari. Jurnal Online Media Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen UMP 15 (1), 87.

Siemianowska E, Agnieszka K, Marek A, Krystyna A, Skibniewska, Lucyna PJ, Adrian J, Marta J. (2013). Larvae of Mealworm (Tenebrio molitor) as european novel food. J Agri Sci 4 (6), 287 – 291.

Sitompul, R. H. (2006). Pertumbuhan dan Konversi Ulat tepung (Tenebrio molitor) pada kombinasi konsentrat dengan dedak padi, onggok, dan pollard. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Su’ud, M. H. (2006). Manajemen Agribisnis dalam Perspektif Pendekatan Sistem. Yayasan Mitra Cendikia, Banda Aceh.

Thevenot, A, Rivera, L, A, Wilfart, A, Maillard, F. (2018). Mealworm meal for animal feed : Enviromental assessment and sensitivity analysis to guide future prospect. Journal of Cleaner Production 170 (2018), 1260 – 1267.

Umar, H. (2003). Studi Kelayakan Bisnis Edisi Revisi 3. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Walgito, B. (2010). Bimbingan dan Konseling Studi dan Karir. Andi, Yogyakarta.

Wicaksono, Y. (2007). Aplikasi Exel Dalam Pengambilan Keputusan Bisnis. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.

Yusdira A. (2016). Budidaya Ulat Hongkong Untuk Pakan Burung Kicauan, Ikan Hias, Semut Rangrang, dan Umpan Pancing. PT Agromedia Pustaka. Jakarta


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


JIM Agribisnis|JIM Agroteknologi|JIM Peternakan|JIM Teknologi Hasil Pertanian|JIM Teknik Pertanian|
JIM Ilmu Tanah|JIM Proteksi Tanaman|JIM Kehutanan


E-ISSN: 2614-6053 2615-2878 Statistic Indexing | Citation


Alamat Tim Redaksi:
Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam,
Banda Aceh, 23111, Indonesia.
Email:jimfp@unsyiah.ac.id