Peningkatan Mutu Minyak Nilam (Pogostemon cablin) dalam Proses Pemurnian Minyak Nilam Aceh Jaya dan Aceh Selatan dengan Metode Kompleksometri

Rahmat Akbar Manalu, Anshar Patria, Syarifah Rohaya

Abstract


Abstrak : Pemurnian merupaakan proses penghilangan bahan-bahan yang tidak diinginkan dari minyak nilam hasil penyulingan. Metode pemurnian terbagi atas dua cara yaitu pemurnian secara kimia dan pemurnian secara fisik. Pengkelatan atau kompleksometri adaalah pengikatan logaam dengan cara menambbahkan senyawa pengkelat dan memmbentuk komplek logam senyawa pengkeelat. Proses pengkelat metode sama dengan adsorben, akan tetapi senyawa adsorben diganti dengan senyawa pengkelat. Senyawa pengkelat yang cukup dikenal dalam proses pemurnian minyak atsiri antara lain EDTA, asam sitratt, asam mallat, dan asam tartarrat. Peneliitian ini menggunakaan rancangan acaak kelomppok (RAK) faktorial yang terrdiri dari 2 fakktor. Faktor pertama yaitu asal daerah minyak nilam yang terdiri dari 2 taraf (D1=Aceh Selatan dan D2=Aceh Jaya). Faktor kedua yaitu konsentrasi senyawa EDTA yang terdiri dari 3 taraf (H1=1,5%, H2=2% dan H3=2,5%). Faktor asal daerah minyak nilam (D) berpengaruh ssangat nyataa terhadap nilai bobot jenis dan indeks bias juga berpengaruh nyata terhadap bilangan asam. Senyawa EDTA dapat menurunkan kadar Fe pada minyak nilam sebesar 34,8-38,0 %.

Abstract : Purification is the process of removing undesirable materials from distilled patchouli oil. The purification method is divided into two ways, that is chemical purification and physical purification. Corrosion or complexometric is binding of metal by adding chelating compounds and making a metal complex of chelating compound. Chelating process is same as the adsorbent, but the adsorbent compound is replaced with chelating composition. Chelating compounds that are well known in the process of refining essential oils include EDTA, citric acid, malic acid, and tartaric acid. This sstudy used a Randoized Block Design (RDB) factorial consisting two factors. The first factor is the origin of patchouli oil which consists of 2 levels (D1 = South Aceh and D2 = Aceh Jaya). The second factor is the composition of EDTA which consists of 3 levels (H1 = 1.5%, H2 = 2% and H3 = 2.5%). Factors from patchouli oil (D) region have a very significant effect on the value of density and the refractive index also has a significant effect on acid numbers. EDTA compounds can reduce Fe content in patchouli oil by 34.8-38.0%.


Keywords


Minyak nilam Aceh Jaya; minyak nilam Aceh Selatan; senyawa EDTA; Patchouli oil in Aceh Jaya; patchouli oil at South Aceh; composition of EDTA

Full Text:

PDF

References


Alam, P, N. 2007. Aplikasi Proses Pengkelatan Untuk Peningkatan Mutu Minyak Nilam Aceh, Jurnaal Rekayaasa Kimiia dan Linggkungan Vol. 6, No. 2, Hal. 63-66, 2007

Ardiana, I. 2006. Kajiaan Prosees Pemucatan Miinyak Nilaam Menggunakan Asamm Sitrat pada Skalaa Pilot Plaant. Skiripsi Teknologi Pertaniian. Intstitut Pertanian Bogor, Bogor.

Formo, M. W. 1979. Physical Properties of Fat and Faatty Acids. Bailey's Industrial OilandFatProducts.Vol.I,4 Ed.JohnWileyandSons,NewYork

Guenther, E. 1987.Minyak Atsiiri. Diterjemahhkan Olehh R.S Ketaren dan R. Mulyono. Jakarrta, UI Press.

Harimurti, N., Tatang., Djajeng, dan Risfaheri. 2012. Ekstraksi Minyak Nilam (Pogestemon Cablin Bent) dengan Teknik Hidrogenasi Pada Tekanan 1-2 Bar. Jurnal Pasca Panen 9(1)1-10.

Hernani dan risfaheri,. 1989. Pengaaruh Perlakuan Baahan Sebeelum Penyyulingan Terhaadap Rendemeen dan Karakkteristik Miinyak Nilam. Pemberitaan Littri XV(2).

Idris, A., Ramajura, M., dan Said I. 2014. Analisis Kualitas Minyak Nilam (Pogostemon Cablin Benth) Produksi Kabupaten Buol. Jurnal Akademika Kimia. Voulme 3, No2. Hal. 79-85.

Irawan, T, A, B. 2010. Peningkataan Muetu Minyak Nialam Dengan Ekstraaksi dan Destiilasi Pada Berbagai Komposiisi Pelaraut. Tesis. Magister Teknik Kimia Universitas Dipenogoro, Semarang.

Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknnologi Minyak Atsiiri. Balai Pustaka, Jakarta.

Ma’mun. 2008. Pemurniaan Miinyak Niilam dan Minyak Daun Cengkeh Secara Kompleksometri . Jurnal Littri Vol. 14 No. 1 maret 2008. Hal 12.

Mangun, H.M.S. 2005. Nilam. Penebar Swadaya, Jakarta.

Nasruddin, G., Priyanto., dan Hamzah, B. 2005. Mempelajari Proses Penyulingan Minyak Nilam Melalui Delignifikasi Daun. Jurnal Teeknologi dan Induustri Pangan, Vol. XVI No. 3 Th. 2005.

Rusli, S. 1991. Peniingkatan Muutu Minnyak Nilaam dan Dauun Cengkeh. Prosiding Pengembangaan Tanaman Atsiiri di Sumatera, Bukittinggi , 4 Agustus 1991, Bogor. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat ; p. 89-96.

SNI.2006. SNI 06-2388-2006. Badan Standarisasi Nasional.

Purnawati, R. 2000. Pemucatan Minyyak Nilaam dengan Caara Redestilasi dan Caraa Kimia. Skripsi. Fateta, IPB Bogor.




DOI: https://doi.org/10.17969/jimfp.v4i4.12768

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


JIM Agribisnis|JIM Agroteknologi|JIM Peternakan|JIM Teknologi Hasil Pertanian|JIM Teknik Pertanian|
JIM Ilmu Tanah|JIM Proteksi Tanaman|JIM Kehutanan


E-ISSN: 2614-6053 2615-2878 Statistic Indexing | Citation


Alamat Tim Redaksi:
Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam,
Banda Aceh, 23111, Indonesia.
Email:jimfp@unsyiah.ac.id