Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Bawang Merah Dataran Tinggi (Allium ascalonicum L.) Akibat Jarak Tanam yang Berbeda di Dataran Rendah

Rima Febryna, Elly Kesumawati, Mardhiah Hayati

Abstract


Abstrak. Bawang merah adalah komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sebagai pemenuhan konsumsi nasional, sumber penghasilan petani, maupun potensinya sebagai penghasil devisa negara. Salah satu cara dalam meningkatkan produksi bawang merah yaitu mengembangkan beberapa varietas bawang merah dataran tinggi serta pengaturan jarak tanam yang sesuai di dataran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil beberapa varietas bawang merah dataran tinggi akibat jarak tanam yang berbeda di dataran rendah. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh pada bulan April sampai dengan Juni 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial 4 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor yang diteliti yaitu varietas bawang merah terdiri dari 4 taraf yaitu Lokal Gayo, Tajuk, Batu Ijo, dan Brebes dan jarak tanam yang terdiri dari tiga taraf yaitu 20 cm x 15 cm, 20 cm x 20 cm, dan 20 cm x 25 cm. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F, dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada semua parameter yang diamati, pertumbuhan dan hasil terbaik dijumpai pada varietas Batu Ijo. Perlakuan jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 15, 30, dan 45 HST, diameter umbi, bobot berangkasan basah, bobot basah umbi, bobot berangkasan kering serta bobot kering umbi, pertumbuhan dan dan hasil terbaik diperoleh pada jarak tanam 20 cm x 25 cm. Terdapat interaksi yang sangat nyata antara jarak tanam dengan varietas terhadap bobot berangkasan basah, bobot basah umbi, bobot berangkasan kering serta bobot kering umbi dan nyata terhadap jumlah anakan per rumpun, pertumbuhan dan hasil terbaik dijumpai pada kombinasi varietas Batu Ijo dengan jarak tanam 20 cm x 25 cm.

Growth and Yeild of some high-altitude shallot (Allium ascalonicum L.) varieties due to different spacing in the lowlands

Abstract. Shallots are vegetable commodities that have high economic value, as a fulfillment of national consumption, farmers' sources of income, as well as their potential as foreign exchange earners. One way to increase the production of shallots is to develop a number of high-altitude shallots as well as to adjust the spacing that is suitable in the lowlands. This study aims to determine the growth and yield of some highland shallots due to different spacing in the lowlands. This research was conducted at Experiment Garden 2 East Sector and Horticulture Laboratory Faculty of Agriculture, Syiah University Kuala, Darussalam, Banda Aceh from April to June 2018. This study used a Randomized Block Design 4 x 3 factorial pattern with 3 replications. Factors studied were red onion varieties consisting of 4 levels namely Local Gayo, Tajuk, Batu Ijo, and Brebes spacing consisting of three levels, namely 20 cm x 15 cm, 20 cm x 20 cm, and 20 cm x 25 cm. The data obtained were analyzed using F test, followed by BNJ test at the level of 5%. The results showed that varieties had a very significant effect on the growth and yield of onion plants on all parameters observed. The treatment of plant spacing has a very significant effect on plant height at the age of 15, 30, and 45 day after planting, diameter of tubers, weight of wet seedlings, wet weight of tubers, dry weight and weight of tubers. There is a very real interaction between plant spacing with varieties on wet-weighted, wet weight of tubers, dry-weighted weight and dry weight of tubers. There is a real interaction with the number of tillers per clump.



Keywords


Batu Ijo; Tajuk; Lokal Gayo; Brebes; bawang merah; shallot; jarak tanam

Full Text:

PDF

References


Badan Pusat Statistik. 2016. Luas Panen. Produksi dan Produktivitas Bawang Merah Tahun 2016. Berita Resmi Statistik. Jakarta.

BPTP Balitbangtan Bengkulu. 2018. Hasil Kaji Terap Unggulkan Varietas Batu Ijo di Kawasan Pengembangan Bawang Merah. Bengkulu.

Departemen Pertanian. 2007. Potensi dan Distribusi Tanaman Bawang Merah di Indonesia.http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/komoditas/bawangmerah.html. [6 Januari 2018].

Erythrina. 2013. Perbenihan dan budidaya bawang merah. Dalam E. Saleh, C. Irsan, Suwandi dan S. Herlina. (Eds.). Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Ketahanan Pangan dan Swasembada Beras Berkelanjutan di Sulawesi Utara: 74-84.

Hikmawati, M. 2016. Pengaruh dosis pupuk dan jarak tanam terhadap produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.). Media Soerjo. Ngawi.

Irianto, Yakup, M. U. Harun dan Susilawati. 2016. Karakter agronomi tiga varietas bawang merah dengan pemupukan fosfor dan sulfur pada musim kemarau di tanah ultisol. Dalam K. Nirmala, A. Novra, B. Lakitan, R. H. Susanto, S. Herlinda dan B. Sahari. (Eds.). Seminar Nasional Lahan Suboptimal Intensifikasi Produksi Pangan Berkelanjutan di Lahan Basah Tropis, Palembang. Hal 404-414.

Kaslil. 2018. Teknologi Budidaya Bawang Merah. Balai Penyuluhan Pertanian Lut Tawar. Takengon.

Madkar, O. R. 2002. Pengaruh aplikasi herbisida terhadap produktivitas tanaman pada sistem tanaman tunggal dan tumpangsari. Universitas Padjajaran. Bandung. 125 hlm.

Mawazin dan H. Suhaendi. 2008. Pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan diameter Shorea parvifolia dyer. Jurnal penelitian hutan dan konversi Alam. 5(4) : 381-388.

Moongngarm, A., N. Trachoo and Sirigunggwan. 2011. Low molecular weight carbohydtrates, prebiotic content, and prebiotic activity of selected food plants in Thailand. Advance Journal of Food Science and Technology, 3(4): 269-274.

Nurjanani, 2016. Adaptasi beberapa varietas unggul baru bawang merah di lahan suboptimal Kabupaten Jenopo. Dalam Muslimin, E. S. Rohaeni, A. Noor, Suryana, R. Galib, N. Amali, A. Ghazali, H. Susanti dan L. N. Hasanah (Eds.).Prosiding seminar nasional Inovasi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Kedaulatan Pangan Berkelanjutan, Banjarbaru. Hal 922-927.

Putra, A. A. G. 2010. Pengaruh jarak tanm dan dosis pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah (Allium ascalonicum L.) di lahan kering beriklim basah. Ganec Swara Vol. 4 No. 1. Tabanan.

Rahman. A., J. Hadie dan C. Nisa. 2016. Kajian pertumbuhan dan hasil tiga varietas bawang merah pada berbagai kepadatan populasi yang di tanam di lahan kering marginal kecamatan sungai raya kabupaten hulu sungai selatan. Ziraa’ah. Vol 41. No. 3. Banjarbaru.

Sumarni, N., R. Rosliani dan Suwandi. 2012. Optimasi jarak tanam dan dosis pupuk NPK untuk produksi bawang merah dari benih umbi mini dai dataran tinggi. J. Hort. Vol. 22(2):148-155. Bandung.

Sinaga, E. M., E. S. Bayu dan N. Isman. 2013. Adaptasi beberapa varietas bawang merah (Allium ascalonicum L.) di dataran rendah Medan. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol. 1(3): 404-417.

Wulandari, R., N. E. Suminarti dan H. T. Sebayang. Pengaruh jarak tanam dan frekuensi penyiangan gulma pada pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.)

Zulkarnain. 2010. Dasar-dasar Hortikultura. Cetakan ke dua. Bumi Aksara. Jakarta.




DOI: https://doi.org/10.17969/jimfp.v4i1.10245

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


JIM Agribisnis|JIM Agroteknologi|JIM Peternakan|JIM Teknologi Hasil Pertanian|JIM Teknik Pertanian|
JIM Ilmu Tanah|JIM Proteksi Tanaman|JIM Kehutanan


E-ISSN: 2614-6053 2615-2878 Statistic Indexing | Citation


Alamat Tim Redaksi:
Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam,
Banda Aceh, 23111, Indonesia.
Email:jimfp@unsyiah.ac.id