PENGARUH PEMBERIAN PAKAN FERMENTASI JAGUNG GILING, CANGKANG KEPITING DAN KULIT UDANG TERHADAP KUALITAS TELUR PUYUH (Coturnix coturnix japonica)[ The Effect Of Fermented Feed Supplementation Of Milled Corn, Crab Shell And Shrimp Shell On The Quality Of Quail Egg (Coturnix coturnix japonica)]

nona sartika, aman yaman, mustafa sabri

Abstract


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengetahui pemberian pakan fermentasi jagung giling, kulit udang dan cangkang kepiting terhadap kualitas telur puyuh (Coturnix coturnix japonica). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Sampel yang di gunakan 5 butir telur. Pakan perlakuan yang digunakan adalah P0 = pakan kontrol, P1 = 10% pakan fermentasi + 90% pakan komersial, P2 = 15% pakan fermentasi + 85% pakan komersial dan P3 = 20% pakan fermentasi + 80% pakan komersial. Pemberian pakan fermentasi jagung giling, kulit udang dan cangkang kepiting tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot telur, indeks putih telur, dan tebal kerabang, berpengaruh nyata (P< 0,05) terhadap indeks kuning telur, Haugh Unit  telur terdapat pada perlakuan P1 sebesar 86,00. Nilai HU telur puyuh hasil penelitian ini dapat dikatakan memiliki kualitas yang sangat baik atau kualitas AA. Perlakuan pakan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada skor warna kuning telur tertinggi terdapat pada perlakuan P3 yaitu skor 5,45. Disimpulkan bahwa pemberian pakan fermentasi yang mengandung jagung giling, cangkang kepiting dan kulit udang 10 % berpengaruh meningkatkan kualitas nilai Haugh Unit telur puyuh menjadi sangat baik (AA).

Kata Kunci : Telur Puyuh, Fermentasi, Jagung giling, Cangkang Kepiting, dan Kulit Udang.

ABSTRACT

This research was designed to evaluate the effect of fermented feed of milled corn, shrimp and crab shells to the quality on the quail egg (Coturnixcoturnix japonica). The experimental design used was Completely Randomized Design (RAL) that consist of 4 treatments,4 replications and each group consists of 5 eggs. The treated feed was P0 = control feed, P1 = 10% of fermented feed, P2 = 15% of fermented feed and P3 = 20% of fermented feed. The data were analyzed using variance analysis (ANOVA) andwas proceed by Duncan's multiple-range test. The results showed that the effect of fermented milled corn, shrimp and crab shells in quailsfeed were not significantly different (P>0,05) on egg weight, eggwhite index, and shell thickness however, it was significantly effected (P<0,05) on egg yolk where the  highest in P2 treatmentHaugh Unit values of  P1 treatment was 86.00. HU value of quail eggs have an excellent quality or AA quality. Feed treatment was significantly effected (P <0,01) on egg yolk score. It was concluded that fermented feed supplementation of milled corn, crab shell and shrimp shell 10 %increased the quality of quail egg.

Keywords : Qual Eggs, Fermented, Milled Corn, Crab Shell, and Shrimp Shell.


Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir Dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. UI Press, Jakarta.

Babu, C. M., R. Chakrabartib danK. R. S. Sambasivarao. 2008. Enzymatic isolation of carotenoid-protein complex from shrimp head waste and its use as a source of carotenoids. J. Food Sci. and Tech. 41 (2) : 227-235.

Badan Standardisas iNasional. 2008. TelurAyamKonsumsi. SNI, Jakarta

Bakrie, B., E. Manshurdan I. M. Sukadana. 2011. Pemberianberbagai level tepung cangkang udang kedalam ransum anak puyuh dalam masa pertumbuhan (umur 1 -6 minggu). J. Penelitian Pertanian Terapan. 12 (1): 58 – 68.

Buckle, A.A., R.A. Edgard, E.H. Fleet dan M. Wotton. 1987. Ilmu Pangan. UI Press,Jakarta.

Djailani, L., M. Mukhtardan S. S. Djunu. 2015. Level pemberian dedak jagung fermentasi dalam ransum terhadap pertambahan bobot badan dan efesiensi ransum puyuh (Coturnixcoturnix japonica) fase pertumbuhan. J. BelibisSains. 1(1) : 12 – 20.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo, dan A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. 4th Edition. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Haryono. 2000. Langkah-Langkah TeknisUji Kualitas Telu rKonsumsi Ayam Ras. Balai Penelitian Ternak, Bogor.

Juliambarwati, M., A. RatriyantodanA. Hanifa. 2012. Pengaruh penggunaan tepung limbah udang dalam ransum terhadap kualitas telur itik. J. SainsPeternakan. 10 (1) : 1-6.

Kul, S. dan I. Seker. 2004. Phenotypic correlations between some external and internal egg quality traits in the Japanese quail (Coturnixcoturnix japonica). Int. J. Poult. Sci. 3: 400-405.

Kumari, B. P., B. R. Gupta, M. G. Prakash, and A.R. Reddy. 2008. A study on egg quality traits in japanese quails (Coturnix-coturnix Japonica). J. Vet. and Anim. Sci. 4 (6) : 227-231.

Kurita, K. 2006. Chitin and Chitosan functional biopolymers from marine crustaceans. Jurnal Marine Biotechnology. 8(3): 203-226.

Kurtini, T., K. Nova, danD. Septinova. 2014. Produksi ternak unggas. Anugrah Utama Raharja (aura), Bandar Lampung.

Listyowati, E. 2009. Tata laksana Budidaya Puyuh Secara Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Marganov, A.M. 2003. Potensi Limbah Udang sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal, Kadmium, dan Tembaga) di Perairan. http://rudyct.topcities.com/pps702_71034/marganof.htm. 15 Desember 2013.

Mirwandhono, E. dan Z. Siregar. 2004. Pemanfaatan hidrolisa tepung kepala udang dan limbah kelapa sawit yang difermentasi dengan Aspergillusniger, Rizhopusoligosporus, dan Trichodermaviridae dalam ransum ayam pedaging. Laporan Penelitian. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Mozin, S. 2006. Kualitas fisik telur puyuh yang mendapatkan campuran tepung bekicot dan tepung darah sebagai substitusi tepungikan. J. Agrisains. 7 (3):183-191..

Rahayu, L. H. dan S. Purnavita. 2007. Optimasi pembuatan kitosan dari kitin limbah cangkang rajungan (Portunuspelagicus) untuk adsorben ion logam merkuri. Reaktor. 11 (1): 45 – 49.

Rasyaf, M. 1990. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Kanisius,Yogyakarta.

Sahara, E. 2011. Penggunaan kepala udang sebagai sumber pigmen dan kitin dalam pakan ternak. J. Agrinak. 1 (1) : 31 – 35.

Siahaya, A. F., T. Nurhajati, danE.S. Koestanti. 2014. Perbedaan substitusi tepung kulit udang, cangkang kepiting dan kunyit dalam pakan komersial terhadap produksi dan warna kuning telur itik. J. Agroveteriner. 2 (2): 139-146.

Song, K. T., S. H. Choi, dan H. R. Oh. 2000. A comparison of egg quality of pheasant, chukar, quail and guinea fowl. Asian-Aus. J. Anim. Sci. 13 (7): 986-990.

Standar Nasional Indonesia. 2006. Pakan puyuh bertelur (quail layer).Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.

Steel, R.G.D dan J.H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika, suatu Pendekatan Biometrik. Edisi Kedua. PT. GramediaPustakaUtama, Jakarta.

Stojcic, M. D., N. Milosevic, danL. Peric. 2012. Determining some exterior and interior quality traits of japanese quail eggs (Coturnixcoturnix japonica). J. Agro. Know. 13 (4) : 667-672.

Subekti, E dan D.Hastuti. 2013. BudidayaPuyuh (Coturnixcoturnix japonica) di pekarangan sebagai sumber protein hewani dan penambah income keluarga. Jurnal Ilmu- ilmuPertanian. 9 (1) : 1-10.

Thomas, K.S., P.N.R. Jagatheesan., T.L. Reetha,dan D. Rajendran. 2016. Nutrient composition of Japanese quails egg. Inter. J. Scie, Envirom. And Tech. 5(3): 1293–1295.

Tillman, A.D. 1991. Komposisi Bahan Makanan Ternak Untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Triyanto. 2007. Performa Produksi Burung Puyuh (Coturnixcoturnix japonica) Periode Produksi Umur 6-13 Minggu Pada Lama Pencahayaan Yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Teknologi Produksi Ternak, FakultasPeternakan, InstitutPertanian Bogor. Bogor.

Tuleun, C. D., A. Y. Adekola, danF. G. Yenke. 2013., Performance and erythrocyte osmotic membrane stability of laying Japanese quails (Coturnixcoturnix japonica) fed varying dietary protein level in a hot-humid tropics. J. Agric. Biol. N. Am. 4 (1): 6-13.

United States Department of Agriculture. 2000. Egg Grading Manual. Agricultural Handbook. USDA, Wasington D. C.

Vinale, F., K. Sivasithamparan,E.L. Gisalberti, R. Marra, S.L.WaodanM. Lorito. 2008. Trichoderma plant pathogen interactions. Soil Biology and Biochemistry.40: 1-10..

Wahju, J. 1997.Ilmu Nutrisi Unggas .Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wilson, B. J., 2007. The performance of male ducking given starter diets with different concentration of energy and protein. J. British Poult. Sci. 16 : 625-657.

Winarno, F. G., danS. Koswara. 2002. Telur :komposisi, penanganan dan pengolahannya. M-Brio Press. Bogor.

Woodard, A. R., H. Ablanalp, W. O. Wilson, dan P. Vohra. 1973. Japanese Quail Husbandry in the Laboratory. University of California, California.

Wowor, A.R.T.I., B. Bagai, L.Untuk,danH. Liwe. 2015. Kandungan protein kasar, kalsium, dan fosfor tepung limbah udang sebagai pakan yang diolah dengan asam asetat (CH3COOH). J. Zootek. 35 (1) : 1-9.

Yuliansyah, M. F., E. Widodo, danI. H. Djunaidi. 2015.Pengaruh penambahan sari belimbing wuluh (Averrhoabilimbi L.) sebagai acidifier dalam pakan terhadap kualitas internal telur ayam petelur. J. NutrisiTernak. 1 (1): 19-26.

Yuwanta, T. 2004. Telur dan Produksi Telur. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakart

Yuwanta, T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.




DOI: http://dx.doi.org/10.21157/jim%20vet..v2i2.7453

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.