Jumlah Cemaran Mikroba dan Nilai Organoleptik Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)

Ria Apriani, Teuku Reza Ferasyi, Razali Razali

Abstract


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah cemaran mikroba dan nilai organoleptik ikan tongkol (Euthynnus affinis). Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel ikan tongkol secara acak di Pasar Peunayong dan TPI Lampulo Kota Banda Aceh. Pengambilan ikan tongkol dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pada waktu pagi hari (pukul 07.00-09.00 WIB) dan waktu sore hari (pukul 16.00-18.00 WIB). Ikan kemudian disimpan dalam wadah steril dan selanjutnya dibawa ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Sampel ikan tongkol dianalisis nilai organoleptiknya yakni kenampakan (terdiri dari mata, insang dan lendir), bau, sayatan daging dan tekstur secara kualitatif oleh 14 orang responden. Selanjutnya sampel-sampel tersebut juga diperiksa jumlah cemaran mikroba menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Hasil penelitian ditemukan bahwa jumlah cemaran mikroba pagi hari (1,2 x 10⁴) lebih rendah dibandingkan dengan jumlah cemaran mikroba sore hari (3,9 x 10⁴). Rata-rata nilai organoleptik ikan tongkol pada pengambilan pagi dan sore hari adalah kriteria ikan segar. Disimpulkan bahwa jumlah cemaran pada ikan tongkol yang dijual pagi dan sore hari di bawah standar SNI (Standar Nasional Indonesia). Jumlah cemaran mikroba pada ikan tongkol yang dijual pagi hari lebih rendah (1,2x10⁴ CFU/gr) dibanding sore hari (3,9x10⁴ CFU/gr) dengan kriteria ikan dalam kondisi segar dengan rata-rata nilai organoleptik 7.

ABSTRACT

This research aims to investigate of microbial contamination numbers and organoleptic value of tuna fish (Euthynnus affinis). The research started was conducted by obtaining random sample of tuna fish in Peunayong Market and TPI Lampulo, Banda Aceh. The tuna fish was obtained twice a day, in the morning (07.00-09.00 a.m.) and in the afternoon (16.00-18.00 p.m.). The obtained fish then stored in a sterile container and later was carried to Veterinary Public Health Laboratory (Kesmavet) of Veterinary Faculty, Syiah Kuala University. The tuna fish sample was analysed qualitatively for its organoleptic values of appearance (consisted of eyes, the gills and mucus), odours, cuts and texture by 14 respondents. Furthermore, those samples were also examined for its microbial contamination level by using Total Plate Count (TPC) method. This research found that the number of microbial contamination from the fish that took in the morning (1,2 x 10) are less than the fish that took in the afternoon (3,9 x 10). The average organoleptics value of the tuna fish that took in the morning and afternoon categorized in fresh criteria. It was concluded that the contamination numbers of tuna fish that sold in the morning and in the afternoon are under Indonesia National Standard (SNI). Microbial Contamination numbers of tuna fish that sold in the morning was less then the tuna fish that sold in the afternoon and categorized in fresh criteria with an average organoleptic value of 7.


Keywords


Cemaran Mikroba dan nilai Organoleptik

Full Text:

PDF

References


Adawyah, R. 2006. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Bumi Aksara. Jakarta. 158 hal.

Affandi, R.P. 2016. Uji mikrobiologi ikan tongkol yang di distribusikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo dan oleh Pedagang Keliling (PIK) di Kota Banda Aceh. Skripsi. Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala.

Afrianto E, dan E. Liviawaty. 2010. Penanganan Ikan Segar. Widya Padjadjaran. Bandung.

Afrianto E, dan E. Liviawaty. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

Badan Standarisasi Nasional. 2006. SNI 2729. 2006. Spesifikasi Ikan segar. Jakarta.

Badan Standarisasi Nasional. 2015. SNI 2346. 2015. Pedoman pengujian sensori pada produk perikanan. Jakarta.

Badan Standarisasi Nasional. 2013. SNI 2729.2013. Ikan segar. Jakarta.

Berhimpon, S. 1993. Mikrobiologi perikanan ikan. Bagian 1. Ekologi dan pertumbuhan mikroba serta pertumbuhan biokimia pangan. Laboratorium pengolahan dan pembinaan mutu hasil perikanan. Fakultas perikanan dan kelautan. Universitas Sam Ratulangi. Manado

Delgaard, P., H.L. Madson., N.Samieua, and M. Emborg. 2006. Biogenic amine formation and microbial spoilage in chilled garfi sh (Belone belone belone)-effect of modifi ed atmosphere pacaging and previous frozen stronge. Journal of Applied Microbiology. ISSN 1364-5072. 101(1): 80-95.

Djaafar, T.F. 2007. Cemaran mikroba pada produk pertanian, penyakit yang ditimbulkan, dan pencegahannya. Jurnal Litbang Pertanian. 26(2).1-9.

Ilyas, S. 1983. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan. Penerbit CV. Paripurna. Jakarta.

Irianto, H.E dan S. Giyatmi. 2014. Prinsip dasar teknologi pengolahan dan hasil perikanan. Modul 1.

Kartika, B., Hastuti P dan Supartono W, 1988. Pedoman Uji Indrawi Bahan dan Pangan.Proyek Peningkatan Pengembangan Perguruan Tinggi, Universitas GajahMada, Yogyakarta.

Kurniawan, R., Y. Dessy, N. Syahril. 2012. Analisis Bakteri Pembentuk Histamin pada Ikan Tongkol di Perairan Pasie Nan Tigo Koto Tangah Padang Sumatra Barat. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Riau.

Lu, F.,Y. Din, Ye, and D. Liu. 2010. Cinamon and nisin in alginate-calcium coating maintain quality of fresh northern snakehead fish fillet. Journal. LWT-Food Sci. 43 (9): 1331-1335.

Micheal J, Jr. Pelczar dan E.C.S. Chan. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.

Murniati, A.S dan Sunarman. 2000. Pendinginan, Pembekuan, Pengawetan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

Nurjanah, T. Nurhayati, R. Zakaria. 2011. Kemunduran mutu ikan gurami (osphronemus gouramy) pasca kematian pada penyimpanan suhu chilling. Jurnal Sumberdaya Perairan. 2(5). 11-18.

Puri, A.A. 2016. Uji bakteriologis dan organoleptik ikan tongkol di pasar tradisional, modern dan gudang lelang Kota Bandar Lampung. skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Purnomo, H. 1995. Aktivitas Air dan Perananya dalam Pengawetan Pangan. UI Press, Jakarta. 88 hal.

Sebayang, N. 2002. Penerapan teknologi pengasapan ikan bagi masyarakat nelayan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 8(28): 25–34

Sidiki, V.T., A.S. Naiu, dan F.A. Dali 2015. Mutu organoleptik dan mikrobiologis ikan tongkol yang

diawetkan dengan bawang putih selama penyimpanan suhu ruang. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 3(3). 1-6.

Susanto, J.P. dan N. Sopiah. 2003. Pengaruh logam dan konsentrasi substrat terhadap pertumbuhan dan aktivitas bakteri proteolitik pada proses deproteinasi cangkang rajungan. Jurnal Teknologi Lingkungan. 4(1): 40–45.

Syamsir, E., 2008. Proses Pembusukan Ikan. http://id.shvoong.com/exact-sciences/1790308-proses-pembusukan-ikan/. Tanggal Akses 23 maret 2017.

Violentina, G.A.D., Y. Ramona, dan I.G.N.K. Mahardika. 2015. Identifikasi bakteri dari ikan tongkol yang diperdagangkan di pasar ikan Kedonganan Bali. Jurnal Biologi. Denspasar. 19(2). 58-62.

Winarni, T., F. Swastawati., Y.S. Darmanto., E.N. Dewi. 2003. Uji mutu terpadu pada beberapa spesies ikan dan prroduk perikanan di indonesia. Laporan Akhir Hibah Bersaing XI Perguruan Tinggi. Universitas Diponegoro, Semarang. 41p.




DOI: http://dx.doi.org/10.21157/jim%20vet..v1i3.4223

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.